Model Kepemimpinan Ideal
MODEL KEPEMIMPINAN TERBAIK YANG DIADAPTASI DARI SHALAT BERJAMAAH
Oleh: Mamat Rohimat, S.E., M.M[1].
Terbentuknya suatu kepemimpinan adalah karena adanya tujuan bersama yang tidak mungkin bisa dicapai dengan sendiri-sendiri. Suatu kepemimpinan yang efektif adalah suatu kepemimpinan yang bisa mewujudkan tujuan bersama tersebut. Konsep kepemimpinan ini berlaku untuk setiap bidang kehidupan.
Sebagai seorang Muslim, kita meyakini bahwa Al-Islam adalah din yang sempurna. Di dalamnya, terkandung hikmah yang sangat bernilai. Kita yakin bahwa hikmah-hikmah tersebut, jika diterapkan dalam kehidupan, akan membawa kita kepada kesuksesan, baik itu untuk kehidupan dunia, maupun untuk kehidupan akhirat.
Suatu bentuk peribadatan yang disyariatkan oleh Al-Islam untuk dikerjakan secara bersama-sama adalah shalat fardhu berjamaah, 5x sehari. Saya melihat dan merasakan bahwa konsep shalat berjamaah adalah model kepemimpinan yang ideal, yang jika diterapkan dalam kehidupan akan menjadikan suatu kepemimpinan yang paling efektif, Insya Allah. Berikut adalah beberapa pelajaran kepemimpinan paling penting yang dapat diambil dari ketentuan shalat berjamaah:
· Kesamaan Tujuan (Shared Vision)
Sebagaimana telah kita kemukakan di awal, bahwa terbentuknya suatu kepemimpinan adalah adanya suatu tujuan bersama. Suatu kepemimpinan yang efektif, menyaratkan pemahaman dan kesadaran dari setiap elemen terhadap prioritas untuk mencapai tujuan bersama tersebut, dan bukan untuk mencapai tujuan kelompok/orang tertentu.
Dalam shalat, semua orang sadar bahwa tujuan mereka melaksanakan Shalat secara berjamaah adalah untuk mencapai ridha Allah dengan cara melaksanakan kewajiban shalat fardhu yang dilakukan secara berjamaah. Ketika shalat, maka semua tujuan pribadi di kesampingkan.
· Pemimpin dan Pengikut sama-sama tahu langkah untuk mencapai tujuan
Untuk tetap bisa konsisten dalam kepemimpinan, maka pemimpin dan pengikut harus mengetahui dengan jelas langkah-langkah dan tahapan-tahapan yang akan dilakukan untuk mencapai tujuan bersama tersebut. Dalam shalat, imam & makmum sama-sama tahu bahwa shalat dimulai dari takbiratul ihram dan diakhiri dengan salam. Imam & makmum juga tahu apa yang menjadi rukun & syarat shalat, beserta urutannya. Imam & Makmum tahu, setelah rukuk, mereka harus I’tidal. Tidak ada satu pun yang setelah melakukan rukuk, langsung melakukan sujud, sebelum melakukan I’tidal.
· Pemimpin (imam) adalah orang yang paling pandai ilmunya
Hal yang sangat penting dalam kepemimpinan adalah dalam menentukan pemimpin. Seorang pemimpin yang ideal dipilih dengan kriteria-kriteria berdasarkan merit system. Sistem tersebut mengutamakan keahlian & pengetahuan sebagai syarat utama menjadi pemimpin. Berikut adalah urutan kriteria yang memilih pemimpin (imam): orang yang paling pandai ilmunya (ditandai dengan pengetahuan ilmu fikih & banyaknya ayat Qur’an yang dihafal), orang yang paling fasihat bacaan qur’annya, orang yang lebih dahulu hijrahnya ke dalam Islam (lebih senior), sehat fisik & pikirannya, dan seterusnya.
Dengan demikian, kemampuan seorang pemimpin dari sudut pandang keilmuan & keahlian menjadi prioritas utama. Seorang pemimpin yang dipilih haruslah diutamakan orang yang paling paham. Dalam kehidupan riil, keilmuan dan keahlian tersebut adalah pengetahuan mengenai masalah-masalah yang dihadapi dan cara mengatasinya untuk mencapai suatu tujuan kepemimpinan. Jika seorang pemimpin yang dipilih tidak memiliki pengetahuan dan keahlian yang memadai, maka tunggu kehancurannya, sebagaimana yang dikatakan Rasulullah:
“Jika suatu urusan diserahkan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah kehancurannya”.
Setelah seorang yang paling ahli terpilih, lalu seorang pemimpin harus pula mempertimbangkan pemenuhan terhadap kriteria lainnya seperti kemampuan berkomunikasi yang efektif (mampu mengungkapkan ide dan mau mendengar aspirasi), lebih berpengalaman (lebih senior), sehat baik secara fisik maupun mental, dan lain-lain.
· Kepatuhan pengikut terhadap pemimpinnya
Jiwa kepatuhan pengikut kepada pemimpin sangat penting untuk suksesnya suatu kepemimpinan. Hal ini selain karena begitulah seharusnya berdasarkan posisi masing-masing, juga untuk membentuk kesatupaduan dan kekompakkan (unity of command). Tentu saja, kepatuhan pengikut terhadap Imam tersebut hanya dilakukan dalam hal yang tidak bermaksiat kepada Allah. Hal ini ditegaskan Rasulullah dalam hadits yang dirawayatkan Imam Bukhari & Muslim, tentang pentingnya mengikuti pemimpin (imam), sebagai berikut:
…
“ Sesungguhnya, tidak lain imam itu dijadikan kecuali untuk diikuti. Jikalau Imam bertakbir, maka bertakbirlah kalian. Jika Imam sujud, maka sujudlah kalian. Jika Imam bangun, maka bangunlah kalian. Jika imam mengatakan ‘sami’allahu liman hamidah’, maka katakanlah: ‘Rabbana Walakal hamdu’, dan jika Imam shalat dengan duduk, maka shalatlah kalian semua dengan duduk”.
Jika pemimpin salah, maka ingatkanlah selagi belum sempurna kesalahannya. Namun, jika pemimpin telah terlanjur melakukan kesalahan, maka janganlah kita mempermalukannya, dan biarkan pemimpin menebus kesalahannya itu. Hal ini dikiaskan dalam shalat, jika imam akan berdiri (yang seharusnya duduk tahiyat awal), maka ingatkan dengan membaca ‘subahanallah’. Namun, jika imam telah berdiri sempurna, maka kita jangan menarik imam untuk duduk tahiyat awal, tapi kita ikuti imam berdiri. Lalu biarkan Imam menebus kesalahannya dengan sujud sahwi.
· Automatic Leadership Change.
Kepemimpinan harus tetap dilanjutkan, apapun yang terjadi dengan pemimpin. Untuk itu, jika pemimpin berhalangan baik tetap atau sementara, maka harus ada orang yang kualitasnya kedua setelah pemimpin, menggantikan kepemimpinan secara otomatis. Hal ini sunnahkan dalam shalat, orang yang persis di belakang imam adalah orang kedua yang memiliki kualitas di bawah imam, yang jika sewaktu-waktu terjadi sesuatu penghalang buat imam melanjutkan shalat (seperti batal wudhu), ia akan langsung maju menggantikan posisi imam dan langsung melanjutkan shalat. Dan begitu seterusnya, beberapa orang yang ada di belakang Imam harus memiliki kualitas tidak jauh di bawah imam, yang sewaktu-waktu jika imam berhalangan dapat melanjutkan shalat. Praktik seperti ini akan mencegak kekosongan kepemimpinan. Dengan demikian, kepemimpinan akan terjaga dan umat tidak terpecah belah. Wallahu A’lam.
[1] Management Consultant for Small & Business Enterprises (SMEs) of Thegreatinvestor (http://www.thegreatinvestor.com)
Leave Comment
You must be logged in to post a comment.
Mamat Rohimat