MENGAMBIL HIKMAH DAN SIKAP YANG BENAR DARI KRISIS KEUANGAN GLOBAL
Menyusul kredit macet atas subprime mortgage di Amerika Serikat pertengahan 2007 dua tahun lalu, kita menyaksikan pasar keuangan global terus mengalami goncangan besar. IMF memperkirakan kerugian global akibat kredit macet tersebut mencapai USD 945 Miliar. Banyak lembaga keuangan di Amerika yang sudah gulung tikar seperti yang terjadi pada Lehman & Brother. Beberapa bank di Eropa mengalami kesulitan likuiditas yang memaksa pemerintah yang bersangkutan mengambil alih saham bank tersebut (seperti kasus BLBI di Indonesia).
Suramnya pasar keuangan di Amerika dan Eropa disikapi secara berlebihan oleh investor di Bursa Efek Indonesia. Karena itu, Bursa Efek Indonesia pada 8-9 Oktober 2008 terpaksa menghentikan perdagangan untuk menahan penurunan indeks semakin dalam setelah anjlok sebesar 168,052 menjadi 1.451,669 (turun 10,38%) dalam satu hari.
Jika kita berpikir secara jernih, ada beberapa hikmah yang dapat kita ambil sehingga kita bisa menyikapi krisis keuangan ’global’ tersebut, yaitu:
- back to basic/fundamental
Bagi orang yang mau berinvestasi melalui pasar modal, sebaiknya mengetahui nature pasar modal itu sendiri. Secara definisi, pasar modal adalah tempat untuk mendapatkan pendanaan (bagi emiten) dengan mengeluarkan surat berharga (saham dan obligasi) yang memiliki jatuh tempo di atas satu tahun. Kalau begitu, bagi orang yang mau berinvestasi di pasar modal, milikilah horizon investasi minimum satu tahun. Jangka waktu yang lebih panjang bisa memungkinkan investor untuk menilai hasil investasinya secara lebih jernih. Investor juga tidak perlu terlalu stress dengan naik-turunnya harga dalam jangka pendek.
Investor juga harus menyadari kalau nilai dari surat berharga (saham) seharusnya mencerminkan nilai dari perusahaan yang menjadi underlying asset-nya. Artinya, dalam mengambil keputusan investasi baik beli, jual, atau tahan, investor sebaiknya menggunakan pertimbangan atas perhitungan nilai perusahaan (instrinsic value). Jika investor telah bisa memperkirakan nilai perusahaan (value of the firm/instrinsic value), investor akan lebih percaya diri dalam membuat keputusan investasi dan tidak lagi hanya “ikut-ikutan” kepada perilaku investor asing. Secara singkat, investor harus yakin bahwa instrinsic value dari perusahaan akan tinggi atau meningkat, jika kemampuan perusahaan menciptakan laba (profitability) tinggi.
- kemampuan menahan emosi
Belajar dari kesuksesan investor sukses (Warren Buffett) dan kegagalan Lehman & Brother, dalam berinvestasi di pasar modal, investor harus memiliki kemampuan menahan emosi. Investor harus mengelola ketakutan dan keserakahan yang berlebihan sehingga tetap bisa berpikir dan bertindak rasional dalam kondisi apa pun.
Leave Comment
You must be logged in to post a comment.
Mamat Rohimat