Navigation


BERINVESTASI PADA SAHAM: DARI TEORI KE PRAKTIK

April 5th, 2010,By | Category: Articles | No Comments »,

BERINVESTASI PADA SAHAM: DARI TEORI KE PRAKTIK

Oleh:

MAMAT ROHIMAT, S.E., M.M. (mamat@thegreatinvestor.com)

KOSEP DASAR SAHAM

Saham dalam bahasa Inggeris disebut share , memiliki arti “bagian”. Secara istilah, saham adalah suatu tanda  bagian kepemilikan dari suatu perusahaan (share of ownership of a company).  Dengan demikian, memiliki saham suatu saham berarti menjadi bagian dari pemilik perusahaan.

Dengan mengacu kepada definisi tentang saham di atas, maka nilai suatu saham diturunkan dari nilai perusahaan yang dimiliki oleh pemilik perusahaan. Untuk memperjelas, kita berikan ilustrasi sederhana sebagai berikut:

Anggap PT Unilever Indonesia (UNVR) memiliki;

  • asset (A) senilai Rp VA yang terdiri dari portofolio bisnis berupa produk-produk antara lain: Pepsodent, Lux, Lifebuoy, Clear, Sunsilk, Rinso, Sunlight, Kecap Bango,  Blue Band, Royco, Sari Wangi, Walls, Citra, Ponds, Dove, dan Rexona; dan berupa asset bergerak serta asset tidak bergerak lainnya.
  • utang (Liabilities, L) senilai Rp VL

Secara sederhana, nilai asset perusahaan yang merupakan hak pemilik saham perusahaan (Equity, E) adalah sebesar VE  yang dapat diperoleh dengan operasi sebagai berikut:

  VE = VA – VL  Yaitu, merupakan nilai dari asset setelah dikurangi dengan nilai utang.

Jika UNVR mengeluarkan saham perusahaan sebesar X lembar, maka nilai wajar dari saham itu adalah VE/X.

Yang menjadi ‘Pekerjaan Rumah’ kita adalah menilai asset itu, berapa nilai wajarnya? Menggunakan pendekatan apa?

Berikut adalah beberapa hal yang mempengaruhi penilaian terhadap aset-aset itu:

·         Portofolio bisnis yang dimiliki UNVR itu menghasilkan keuntunggan dan aliran uang setiap harinya yang akan menambah nilai dari asset-asset itu.

·          Di lain pihak, ada juga biaya-biaya yang harus dikeluarkan untuk setiap keuntungan yang ingin diperoleh

·         Ada faktor-faktor eksternal yang mempengaruhi besaran keuntungan dan aliran yang dihasilkan serta besaran biaya yang harus dikeluarkan.

·         Kepala dan “isi kepala” dari para investor ataupun analist berbeda sehingga menyebabkan penilaian terhadap nilai wajar dari aset-aset UNVR itu juga tidak sama.

·         Dalam setiap waktu, ada investor yang menilai VE/X (harga wajar saham itu) lebih tinggi dari harga yang diperdagangkan di pasar (undervalued) sehingga membeli saham tersebut. Di lain pihak, dalam waktu bersamaan, ada investor yang menilai harga wajar saham itu lebih rendah dari harga yang diperdagangkan (overvalued) dan karenanya dia meyakini harga saham itu akan turun, sehingga dia menjual saham tersebut.

BERINVESTASI PADA SAHAM

Berinvestasi pada saham sama dengan berinvestasi pada instrumen investasi lainnya (seperti real estate), yaitu dengan membeli saham tersebut pada harga yang dijual dipasar. Jika membeli real estate, seorang investor berharap bisa mendapatkan pendapatan dari hasil menyewakan propertinya ke pihak lain (jika disewakan) dan mendapatkan kenaikan dari nilai property yang dimilikinya (capital gain); begitu juga dengan berinvestasi pada saham. Seorang investor saham menginginkan bagian dari keuntungan perusahaan yang dimilikinya (dividend) dan kenaikan dari nilai (yang tercermin dari kenaikan harga) saham yang dimilikinya dibandingkan harga belinya (capital gain).

INVESTASI VERSUS TRADING

Sering kali orang-orang membedakan antara investasi dengan trading. Padahal, sebenarnya tidak ada perbedaan yang mendasar dari keduanya, yaitu membeli saham dengan harapan bisa mendapatkan keuntungan, baik dari dividend (bagian keuntungan perusahaan yang dibagikan kepada pemilik saham perusahaan)  ataupun capital gain (keuntungan akibat kenaikan harga saham saat ini dibandingkan dengan harga belinya). Apakah investor akan merealisasikan keuntungan akibat kenaikan harga saham tersebut (realized capital gain) atau membiarkannya karena harga saham diperkirakan akan terus meningkat (unrealized capital gain), itu tidak membedakan antara investasi ataupun trading.

Averaging Down Versus Cut Loss

Berdasarkan pengalaman, melakukan averaging  down (membeli kembali saham saat harga jatuh sehingga harga pembelian secara average akan menurun) ataupun cut loss (menjual saham saat harganya turun untuk menutupi kerugian) bisa merupakan suatu keputusan yang terbukti benar atau terbukti salah dalam jangka pendek. Ada kalanya, harga saham yang sahamnya kita lakukan averaging down meningkat kembali sehingga kita bisa Break Even Point (BEP, impas) dan bahkan bisa profit, namun ada kalanya harga saham tersebut terus meluncur ke bawah sehingga kerugian kita membesar. Begitu pula, ada kalanya, harga saham yang sahamnya kita lakukan cut loss berbalik dan naik, sehingga kita merasa salah melakukan cut loss, namun ada kalanya harga saham tersebut terus turun sehingga kita merasa senang telah melakukan cut loss karena bisa menghindari kerugian lebih besar.

Dengan demikian, tidak ada teori yang absolut kebenarannya dan konklusif, ketika harga saham dari saham yang telah kita beli sebelumnya itu menurun, apakah harus averaging down ataukah cut loss. Namun demikian, berikut adalah beberapa saran dari pengalaman penulis:

  • jika Anda yakin tentang baiknya fundamental perusahaan dan jika Anda berinvestasi untuk jangka waktu yang panjang serta jika Anda yakin bahwa nilai wajar saham perusahaan itu lebih tinggi dari harganya, kenapa harus melakukan cut loss? Bukankah itu adalah kesempatan untuk mendapatkan barang bagus, dengan harga yang lebih murah? Itulah yang disarankan oleh Warren Buffett.
  •   jika Anda yakin bahwa Anda telah keliru membeli perusahaan yang buruk dan Anda melihat harga saham tersebut akan terus turun, serta market secara umum akan terus turun lebih dalam, maka lebih baik Anda membatasi kerugian Anda sebelum kerugian lebih besar lagi.

Long Term Versus Short Term

Karena pasar masih memerlukan waktu untuk melakukan koreksi terhadap harga dalam waktu yang cukup, dan sering kali perlu waktu yang lama, maka alangkah lebih baik untuk berinvestasi dalam horizon yang lebih panjang. Dalam jangka panjang, harga saham akan mengikuti nilai wajarnya sehingga jika kita membelinya di bawah nilai wajarnya (undervalued), kita berkesempatan untuk merealisasikan keuntungan. Ingat, dunia tidak dibangun dalam satu hari. 

© Thegreatinvestor  2009 (http://www.thegreatinvestor.com)

Tags:

Leave Comment

You must be logged in to post a comment.

About Founder

Foto Mamat Mamat Rohimat
10 Juli 1982
Jakarta, Indonesia


Categories

Bookmark and Share